Jumat, 23 Juli 2010

10 Karakter Jenius

Kalau mendengar kata jenius, asosiasi kita pasti mengarah ke Einstein, pemilik E=MC2, yang sangat terkenal itu, atau orang dengan IQ diatas rata-rata, atau di Indonesia kita punya BJ Habibe. Anggapan itu memang tidak salah. Tapi seiring perkembangan zaman, kita tidak bisa hanya mengandalkan kecerdasan (otak kiri) untuk mewujudkan ide-ide brilian, Kita juga dituntut kreativitas (otak kanan). Intinya, kombinasi dari keduanya sangat diperlukan.
Tampaknya ini sangat sulit dan rumit. Maklum fungsi kedua otak ini memang bertolak belakang, namun sebenarnya tidak ada orang yang murni berpikir dengan otak kiri atau sebaliknya. Pertanyaannya bagaimanakah cara berpikir yang jenius dan apakah hal itu sudah ada pada diri kita. Berikut ini adalah 10 karakter jenius, sudahkah anda memilikinya?
1.Pemikiran Original, Seorang yang jenius mulai dengan pemikiran yang terbuka, teratur mengambil perspektif-perspektif baru, mampu menguraikan masalah dan menyatukannya kembali dengan cara yang lebih baik. Banyak ide hebat telah ditolak karena mereka tidak cocok dengan pemikiran yang konvensional, dan dianggap tidak praktis atau “lebih maju dari zaman mereka”.
2.Pemikiran Kreatif. Seorang jenius selalu terbuka kepada setiap kemungkinan, mencoba untuk memecahkan masalah dengan hipotesis, mempunyai mental yang bagus, lalu melihat apakah itu terbukti benar atau tidak. Einstein sering menggunakan hipotesis untuk membuktikan perhitungan matematikanya untuk menemukan kemungkinan yang nantinya dapat ia buktikan benar atau tidak.
3.Pemikiran Analisis. Seorang jenius akan bekerja memecahkan masalah atau mencari ide dengan teratur atau perlahan-lahan, hati-hati dan menyeluruh dan juga dengan kreatif. Meskipun seorang jenius mencapai tingkatan atau dimensi baru melalui langkah-langkah kreatif, masih ada kebutuhan untuk mengerti dan menerapkannya agar tidak menjadi omong kosong belaka. Terobosan-terobosan jarang tercapai dari sumber prindip atau aturan, tapi tetap diperlukan bukti dari sebuah konsep yang baru.
4.Pemikiran Observatif. Seorang Jenius mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi, kepekaan yang tinggi dari hal-hal apa saja yang sedang terjadi dan mencari pola-pola seperti layaknya seorang ahli forensik atau detektif. Beberapa kesimpulan terbaik berasal dari observasi, seperti seorang ahli antropologi yang mengamati dan memikirkan apa yang sedang terjadi.
5.Pemikiran Ganda. Seorang jenius dapat berpikir secara paralel, mentoleransi kerancuan, menyatukan hal-hal yang berlawanan dan menghubungkan hal-hal yang tidak saling terhubung sebelumnya. Solusi baru seringkali penuh dengan kontradiksi, entah dengan aturan yang ada, atau didalamnya sendiri. Menurut Scott Fitzgerald, pemikiran yang unggul adalah kemampuan untuk memegang dua ide yang saling bertentangan pada saat bersamaan. Leonardo da Vinci mengkombinasikan suara bel dengan gelombang yang terjadi pada saat batu jatuh ke dalam air, membawanya pada kesimpulan bahwa suara menjelajah sebagai gelombang.
6.Pemikiran Holistik. Seorang Jenius dapat menerima perspektif yang lebih luas, untuk melihat masalah holistik sesuai dengan konteks lingkunganya dan menyatukan kembali bagian-bagiannya. Einstein menyatukan atribut-atribut yang luas seperti energi, massa dan kecepatan cahaya. Seorang jenius dapat melihat apa yang dilihat orang lain, tetapi mempunyai pemikiran yang belum pernah dipunyai oleh orang lain.
7.Pemikiran Volume. Seorang jenius mencari lebih banyak solusi daripada hanya satu, membangun atau memberikan tantangan satu sama lain, dan secara terus menerus mencari solusi yang lebih sempurna lagi. Mozart menulis 600 buah lagu dan Bach menulis satu setiap minggu, walaupun dia sedang sakit. Einstein menerbitkan 148 tulisan walaupun terkenal dengan karyanya yang pertama-tama.
8.Pemikiran Pragmatis. Seorang jenius mengenali ide-ide dan solusi-solusi yang jarang digunakan pada konsep, bahwa teori atau konsep haruslah dibuat menjadi nyata, harus praktis dan berguna. Seorang jenius terus-menerus berpikir, menjelajah, berinovasi dan menemukan. Tetapi seorang jenius hanya bisa menjadi jenius apabila pemikirannya dapat diaplikasikan pada aksi nyata dan dapat menambah value dengan cara tertentu.
9.Pemikiran Visual. Seorang jenius mampu untuk mengekspresikan ide-idenya dengan lebih jelas, biasanya melalui visual dengan menggunakan diagram-diagram dan analogi untuk dapat mengerti akan kerumitan yang ada dalam cara yang komprehensif. Ledakan kreativitas yang terjadi pada zaman Reineisance ditandai dengan banyaknya lukisan dan diagram, seiring dengan Galileo dan Leonardo da Vinci yang mengilustrasikan ide-ide revolusionernya melalui grafis. Cara ini dapat menangkap imajinasi dari banyak orang daripada dengan menggunakan kata-kata atau angka-angka.
10.Pemikiran Tanpa Keraguan. Seorang jenius harus mempunyai keyakinan didalam dirinya dan kepercayaan diri untuk mendukung penuh apa yang mereka yakini, sementara orang lain akan memberikan tantangan pada mereka. Dari Galileo dan leonardo da Vinci, sampai kepada Einstein dan Picasso, seorang jenius membutukan kekuatan dari dalam dirinya yang berupa keyakinan untuk tetap bertahan dengan ide-ide yang radikal dan aksi-aksi diluar kebiasaan dan menantang status quo. Kita lebih suka dengan kestabilan, keamanan dengan apa yang kita ketahui daripada yang tidak kita ketahui. Seorang jenius seringkali harus mencapai lebih dari hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar