Jumat, 23 Juli 2010

19 Tanda Gagal Ramadhan

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban. Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan
shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya’ban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha berkata, ”Saya tidak
pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau
banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.”
2. Gampang mengulur shalat fardhu. “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan
shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang
bertaubat dan beramal shalih.” (Maryam: 59)
Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan
shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib,
shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari.
Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat
fardhu di bulan lain.
3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri
kepada Alloh dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih. “Sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami
dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)
“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits
Qudsi)
4. Kikir dan rakus pada harta benda. Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah
satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta
benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat
manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Alloh Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat
utama kemanusiaan (Insaniyah).
5. Malas membaca Al-Qur’an. Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.
Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca AlQur’an.
“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi) Ramadhan adalah saat yang tepat
untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus
nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.
6. Mudah mengumbar amarah. Ramadhan adalah bulan kesabaran. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang
yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”
Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia
berkata keji dan jangan berbuat bodoh (Jahl). Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah
sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
7. Gemar bicara sia-sia dan dusta. “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Alloh
tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Alloh padahal dia
meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baikbaik.
Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi
juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.” (Al Muhalla VI: 178)
Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara
masak: “Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”
8. Memutuskan tali silaturrahim. Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: “…Barangsiapa
menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Alloh akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang
siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Alloh akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-
Nya…”
Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta. Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan
dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak
adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.
9. Menyia-nyiakan waktu. Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Alloh Swt dengan orang-orang yang menghabiskan
waktu mereka untuk bermain-main.

19 Tanda Gagal Ramadhan dan Kiat-Kiat untuk Menghindarinya

“Alloh bertanya: ‘ Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?’
Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang
menghitung.’
Alloh berfirman: ‘Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’
Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Alloh, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain
Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.”
(Al-Mu’minun: 112-116)
Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia,
kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban
dan keteraturan.


10. Labil dalam menjalani hidup. Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga
tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw: “Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Alloh
telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan
dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan
kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya.” (HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi dari Abu
Hurairah)
Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi
keadaan apapun.
11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam. Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa
yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan
‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman
sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.
12. Khianat terhadap amanah. Shiyam adalah amanah Alloh yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada
Alloh. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya
terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah
mengkhianati amanah, baik dari Alloh maupun dari manusia.
13. Rendah motivasi hidup berjama’ah. Frekuensi shalat berjama’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan.
Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama
Muslim. Alloh mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan.
“Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakanakan
mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf: 4)
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.
14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk. Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan
Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil
merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq.
Orang yang tunduk dan taat kepada Alloh lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.
15. Malas membela dan menegakkan kebenaran. Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentaratentara
kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh
Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi,
para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran.
Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah
meninggalkan kita sebagai pecundang.
16. Tidak mencintai kaum dhuafa. Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan
ini Alloh melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang
terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup
dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah
bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.
17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan. Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya
mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat
menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya
kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.
“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

19 Tanda Gagal Ramadhan dan Kiat-Kiat untuk Menghindarinya

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran. Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelang
Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di
mata Alloh dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati. Konsentrasi pikiran telah bergeser
dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa
seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.
19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan. Secara harfiah makna Idul Fitri berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun
kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya,
hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali,
syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad
baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Alloh secara lebih profesional. Kesadaran penuh akan
kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.*
M Ali Atwa, Dzikrullah/Hidayatullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar